Beralih Menuju Kamera Mirrorless dari Kamera DSLR

Kira-kira 3 minggu sebelum tulisan ini saya buat, akhirnya terjual juga kamera DSLR yang terakhir saya miliki. Kamera DSLR dengan merek Nikon tipe D7000 tersebut saya lepas dengan semua lensa dan aksesoris yang saya miliki selama ini. Akhirnya saya memutuskan untuk beralih ke kamera mirrorless sebagai kamera pegangan saya. Kenapa saya beralih ke kamera mirrorless? Dalam tulisan kali ini saya akan menjelaskan alasan saya kenapa saya meninggalkan kamera DSLR.

Saya pertama kali memegang kamera SLR adalah Canon tipe AE-1 milik ayah saya ketika saya masih bersekolah di SMP. Kamera tersebut kemudian menjadi penyebab utama saya jatuh cinta pada fotografi dan terus menemani saya hingga kuliah di tahun 90an. Sempat beralih juga ke kamera Minolta Dynax dengan fitur AF sebelum kemudian diteruskan di era digital beralih ke brand Nikon dalam kurun waktu yang cukup lama. Kalau dihitung-hitung saya telah menggunakan kamera SLR hingga lebih dari 15 tahun. Namun dalam satu tahun terakhir ini saya mulai merasakan  telah mencapai satu titik dalam perjalanan fotografi dimana gairah memotret saya banyak terhalang oleh kamera DSLR saya. Secara fisik, dimensi dari kamera DSLR yang saya miliki lumayan bulky dan butuh extra effort untuk membawa perlengkapan standar body kamera + lensa. Passion saya lebih ke street dan documentary photography, dan membawa-bawa kamera DSLR sepanjang jalan buat saya sudah tidak fun lagi (bisa jadi faktor usia? :) ).

Karena itulah saya memutuskan untuk mengganti perlengkapan fotografi saya untuk kembali membuat proses berkarya fotografi kembali fun. Untuk itu saya telah menetapkan kriteria berdasarkan prioritas sebagai berikut untuk kamera baru saya pengganti DSLR :

  1. Bujet yang tersedia Rp 12jt (ini adalah hasil dari penjualan kamera DSLR saya).
  2. Harus secara fisik lebih kecil dan ringan daripada DSLR. Pilihan jatuh pada kamera mirrorless
  3. Kamera baru bukan 2nd (karena ini kamera mirrorless pertama saya, saya ingin garansi masih panjang)
  4. Sensor APS-C

Pada saat itu pilihan saya jatuh pada beberapa kamera:

  1. Fuji X100s. Ini sebenarnya kamera yang saya inginkan di awal. Sangat sexy dengan kualitas gambar yang sangat baik. Sayang bujetnya nggak cukup. Dipaksain bisa aja, tapi nantinya saya pasti harus beli aksesorisnya yang membuat total uang yang dikeluarkan jadi lebih banyak daripada bujet yang ada.
  2. Panasonix GX-7. Secara fisik kamera ini adalah kamera yang paling keren dibandingkan yang lain. Bentuknya retro, sexy tapi tidak feminin. Sayang harga barunya masih mahal dan terutama sensornya menggunakan jenis micro four-third. Buat saya yang lebih senang lensa wide tentunya akan kerepotan dengan crop factor kamera ini.
  3. Sony NEX5/6. Ini yang saya nyaris akuisisi. Harganya terhitung murah untuk fitur dan fasilitas yang didapatkan dari sebuah kamera mirrorless digital terutama fitur transfer WiFi nya. Sayang Sony menghentikan seri NEX dan menggantinya dengan seri Alpha.
  4. Sony Alpha A5000/A6000. Untuk yang tipe A5000 sangat menarik sekali. Sensor yang digunakan APS-C dan diwaktu peluncuran harganya juga tidak mahal. Secara fisik sangat kecil hampir terlihat seperti kamera pocket. Namun disisi ini juga yang membuat saya mundur, karena kamera ini miskin fitur-fitur lebih karena memang lebih ditujukan untuk pangsa pasar pemula. Pilihan sempat jatuh pada A6000, sayang pada saat itu belum dilaunch di Indonesia dan denger-denger dari distributornya harganya juga bakalan diatas 10 juta.
  5. Samsung NX300. Akhirnya pilihan jatuh pada kamera ini. Sebenarnya dari awal kamera ini sudah ada dalam target utama akuisisi, satu hal yang tidak langsung menjadikannya pilihan utama karena kamera ini tidak memiliki viewfinder. Namun pada sisi lain semua fitur yang saya inginkan ada disini: sensor APS-C, interchangeable lens, WiFi transfer, bentuk fisik yang kecil dan ringan, tampilan fisik yang menarik. Selain itu pilihan lensa yang tersedia dan harganya juga sangat kompetitif.

Dari pertimbangan di atas maka akhirnya kamera yang saya miliki sekarang adalah kamera mirrorless Samsung NX300. Berikut summary dari kamera Samsung NX300 yang saya pakai:

  • Secara fisik kecil dan ringan sehingga tidak terlalu berat untuk dibawa-bawa. Demikian juga yang saya suka dengan lensa-lensanya dimana terdapat beberapa pancake lens sehingga tidak membuat kamera ini terlihat bulky.
  • Ada fitur WiFi. Saya bisa transfer file-file foto tanpa direpotkan oleh kabel atau dengan piranti Card Reader. Saya bisa transfer foto ke komputer atau ke smartphone/tablet yang saya pakai atau share/upload foto ke internet via jaringan WiFi. Selain itu saya bisa kontrol kamera dari smartphone atau tablet sebagai remote viwer/control.
  • Sayangnya tidak ada viewfinder. Jadi saya harus mulai membiasakan diri untuk compose dan mengatur foto di LCD backpanel ketimbang via Viewfinder.

Seperti yang Anda lihat dari alasan di atas, kualitas gambar dari kamera bukan menjadi pertimbangan utama saya. Yang jadi pertimbangan utama adalah kamera tersebut harus praktis dan membuat saya fun dalam berkarya. Moral of the story adalah: cari kamera yang membuat kita senang dan fun memotret, bukan kamera dengan fitur atau spesifikasi teknis tertentu.

Disclaimer: Saya tidak mengatakan bahwa kamera DSLR itu jelek dan saya tidak ada hubungan atau dibayar oleh pihak manapun dalam membuat tulisan ini :)

 

  • andy

    Mas, minta rekomendasi kamera mirrolesss untuk arsitektur? Buat interios sama eskterior. Bajet kira2 5-6jt
    Makasih

    • Untuk keperluan tersebut sebenarnya mau mirrorless atau dslr sama saja, yang lebih signigikan adalah focal length lensa. Untuk eksterior pilih lensa wide atau tipe tilt-shift bila bujet memungkinkan.

  • iewenk

    sony a6000 sangat mudah dan simpel. transfer via wifi, bisa melihat gambar dan video langsung dlm keadaan on ke hp via wifi.

  • joy

    kalau dengan fuji x-a1 gimana? range harga masih sama trus ada wifi..

    • bismafs

      Perbedaannya: Fuji X-A1 punya resolusi LCD yang lebih besar (920k vs 768) dan batere yang lebih lama sekitar 10% serta builtin internal flash. Sedangkan NX300: menggunakan OLED yg lebih terang daripada LCD, touch screen selain itu screen juga lebih besar, support 24p untuk movie mode, focus point lebih banyak, resolusi lebih besar (20 Mpx vs 15.8 Mpx), self cleaning sensor mechanism, dan faster shutter speed (1/6000 vs 1/4000).

  • nana

    kalo mau transfer foto ke smartphone via wifi ada aplikasinya kyk sony nex atau gimana mas?

    • bismafs

      Ada aplikasinya khusus buat Samsung. Bisa di download di Google Play & Apple App Store

  • Erwin Mulyadi

    Sony A6000 kit harga resmi 10 juta pas, udah hybrid AF dan ada jendela bidik.

    • bismafs

      Iyah bener, udah keburu beli Samsung NX :)