Memahami Cara Mengukur Cahaya dan Light Metering di Kamera Digital

Tahukah Anda bagaimana kamera mengetahui kondisi cahaya pada saat pemotretan? Bagaimana kamera tahu bahwa saat itu gelap atau terang? Pada artikel fotografi kali ini saya akan membahas mengenai cara mengukur cahaya dan light metering di kamera digital yang merupakan unsur penting bagi kamera dalam mengukur kondisi pencahayaan. Dengan memahami bagaimana sistem light metering di kamera ini bekerja Anda akan memiliki kontrol penuh terhadap kamera dalam menghasilkan foto yang sesuai dengan yang diinginkan.

Memahami light metering di kamera digital sangat penting karena kamera dengan sensor digital cenderung memiliki rentang dynamic range yang lebih sempit ketimbang kamera analog (film). Dengan pemahaman yang tepat mengenai metering kita dapat menghindari terjadinya over atau under exposure yang rentan terjadi di foto digital. Selain itu luminance dan saturation dari hasil foto dapat kita kontrol dengan sangat baik untuk menghasilkan foto yang lebih natural.

light metering di kamera
Light Meter di kamera Canon dSLR – foto: www.dpreview.com

Light metering di kamera erat kaitannya dengan bagaimana kamera mengukur kondisi pencahayaan yang kamera lihat pada saat pemotretan. Dengan melihat kondisi pencahayaan ini kamera lalu akan menilai, apakah terlalu gelap atau terlalu terang dan berikutnya akan memilih atau merekomendasikan f-number atau shutter speed agar hasil foto menjadi pas (tidak gelap dan tidak terang). Nah disinilah kita sebagai fotografer harus tahu, kondisi seperti apakah yang menurut kamera adalah kondisi pencahayaan yang pas (tidak gelap dan tidak terang).

Untuk memudahkan saya akan coba analogikan kondisi pencahayaan dengan kecepatan kendaraan. Untuk mengetahui sebuah kendaraan itu ngebut atau lambat maka harus ada kesepakatan bersama mengenai kecepatan standar. Sebagai contoh kecepatan standar kendaraan di jalan tol adalah 80km/jam. Dengan demikian kita tahu apabila kecepatan kendaraan melebihi 80 km/jam maka kita sebut kendaraan tersebut ngebut. Apabila kendaraan tersebut berjalan di bawah 80 km/jam maka kendaraan tersebut bergerak lambat.

Demikian pula dengan kamera digital, harus ada kesepakatan mengenai kondisi pencahayaan yang pas atau perfect exposure sehingga kamera tahu f-number dan shutter speed yang harus ia gunakan. Saat ini tidak ada informasi resmi dari pabrikan kamera mengenai level perfect exposure yang dikalibrasikan ke kamera-kamera mereka. Namun saat ini sudah menjadi informasi umum bahwa light meter di kamera digital dikalibrasikan dengan menggunakan ANSI Standard 12% Grey. Angka inilah yang dijadikan patokan oleh sistem light metering di kamera digital yang digunakan. Ini artinya apabila kamera melihat kondisi pencahayaan dari sebuah scene di atas 12% Grey maka kamera akan menganggap kondisinya terlalu terang. Sebaliknya apabila kondisi pencahayaan sebuah scene di bawah 12% Grey maka kamera menganggap kondisinya terlalu gelap.

Apa yang dimaksud ANSI Standard 12% Grey ini? Thom Hogan menjelaskannya sebagai berikut: “The standard has always been for a luminance value that is roughly equivalent to the reflectance of 12% gray”. Berikut ini saya coba ilustrasikan kondisi 12% Grey dalam sebuah image (perlu Anda ketahui bahwa penjelasan seterusnya dalam artikel ini adalah ilustrasi dan bukan penggambaran yang akurat secara teknis dari kondisi 12% Grey).

light metering di kamera

Kamera Selalu Ingin 12% Grey

Dari penjelasan ilustrasi di atas dapat Anda lihat bahwa apabila light meter berada di tengah-tengah maka kondisi pencahayaan yang dilihat oleh kamera (berdasarkan f-number dan shutter speed di kamera saat itu) adalah kondisi pencahayaan yang pas. Apabila Anda memilih salah satu dari shooting mode berikut ini: Auto, Program (P), Aperture Priority (Av atau A), atau Shutter Priority (Tv atau S) maka kamera akan selalu berusaha agar indikator light meter berada di tengah. Sebagai contoh, apabila Anda menggunakan mode Aperture Priority dan memilih f-number yang Anda inginkan maka kamera akan memilihkan shutter speed tertentu sehingga indikator light meter berada di tengah. Dengan kata lain kamera selalu ingin 12% Grey.

Apakah konsekuensi dari penggunaan 12% grey ini pada metering di kamera? Berikut ini saya akan ilustrasikan dalam 2 buah contoh kasus pemotretan dengan menggunakan shooting mode Aperture Priority:

1. Kasus A

Pada contoh ini scene yang akan difoto didominasi oleh warna hitam yang tentunya berada di bawah level 12% Grey. Dengan demikian light meter di kamera akan melihat kondisi scene sebagai terlalu gelap (lihat posisi indikator light meter):

light metering di kamera

Berikutnya Anda akan memilih f-number yang akan digunakan dan selanjutnya kamera akan memilih shutter speed agar indikator light meter berada di tengah sehingga hasil fotonya diilustrasikan sebagai berikut:

light metering di kamera

2. Kasus B

Pada contoh ini kebalikan dari kasus sebelumnya dimana  scene didominasi oleh warna putih yang berarti di atas level 12% Grey. Secara otomatis kamera akan melihat kondisi scene sebagai terlalu terang (lihat posisi indikator light meter):

light metering di kamera

Setelah memilih f-number kamera akan memilih shutter speed agar indikator light meter berada di tengah sehingga hasil fotonya diilustrasikan sebagai berikut:

light metering di kamera

Contoh kasus di atas dapat Anda coba sendiri dengan hasil yang bervariasi tergantung dari sistem light metering di kamera Anda. Hasilnya bisa jadi tidak seekstrem ilustrasi di atas, namun hasilnya selalu sama: apabila kondisi aslinya gelap hasil foto cenderung lebih terang dan sebaliknya apabila kondisi aslinya terang maka hasil foto cenderung sedikit lebih gelap.

12% Grey vs 18% Grey Card

Sebelumnya banyak kalangan pelaku fotografi yang menganggap bahwa light meter kamera dikalibrasi pada angka 18% Grey. Hal ini pertama kali dipopulerkan oleh Kodak yang memproduksi 18% Grey Card untuk digunakan oleh fotografer dalam melakukan metering yang akurat.

Walaupun tidak pernah ada penjelasan resmi namun banyak yang beranggapan bahwa Kodak memproduksi 18% Grey Card karena untuk mereproduksi level 12% Grey di media cetak dengan akurat tidak mudah. Sedangkan level 18% Grey apabila dicetak pada macam-macam media akan menghasilkan level yang lebih akurat.

light metering di kamera
18% Grey Card

Kesimpulan

Dari 2 contoh kasus di atas dapat Anda lihat bahwa apabila Anda menyerahkan semua kontrol ke kamera maka hasil foto bisa jadi tidak sesuai dengan kondisi naturalnya. Kamera selalu ingin 12% Grey sementara di kondisi real tidak semuanya selalu 12% Grey. Apabila Anda memotret baju berwarna hitam tentu Anda ingin hasil fotonya juga berwarna hitam bukan hitam keabu-abuan. Begitu juga apabila talent memiliki kulit putih tentu Anda ingin fotonya juga terlihat putih dan bukan skintone yang agak gelap.

light metering di kamera

Dengan demikian apabila scene didominasi warna hitam atau brightness gelap, Anda ingin indikator berada di sebelah kiri. Apabila scene didominasi warna putih atau brightness cerah Anda ingin indikator berada di sebelah kanan.

Bagaimana cara mengatur indikator ini agar bisa bergerak ke kiri atau ke kanan sesuai dengan yang Anda inginkan? Apabila Anda menggunakan salah satu shooting mode berikut ini: Auto, Program, Aperture Priority dan Shutter Priority maka Anda bisa gunakan fitur Exposure Compensation di kamera Anda.

light metering di kamera
Tombol Exposure Compensation

Dengan menggunakan fitur ini Anda bisa “memaksa” kamera untuk memberikan pilihan f-number atau shutter speed agar indikator light meter tidak harus di tengah. Silahkan baca kembali manual kamera Anda mengenai fitur ini. Apabila Anda menggunakan 18% Grey Card pada saat pemotretan maka Anda bisa atur agar indikator light meter dibuka 0,5 stop dari yang diberikan oleh kamera.

Selain dengan menggunakan fitur Exposure Compensation Anda bisa mengatur posisi indikator light meter sesuka Anda apabila Anda menggunakan shooting mode Manual. Dengan menggunakan mode Manual Anda memegang kendali penuh terhadap kamera yang Anda gunakan untuk menghasilkan foto sesuai dengan yang diinginkan.