Memahami dan membuat cinematic cropping pada photo

Sering kali kita melihat desainer dan photographer yang memilih untuk mempresentasikan karya mereka dengan menggunakan cropping cinematic ala bioskop layar lebar. Teknik ini biasanya dengan membuat dimensi foto yang ditampilkan sama dengan dimensi layar lebar (widescreen) baik dengan menambahkan bidang hitam  di atas dan di bawah foto yang disebut letterbox atau tidak. Pada tutorial kali ini saya akan memperlihatkan bagaimana membuat cinematic cropping pada foto yang sesuai dengan standar industri film dan fotografi yang sebenarnya.

Sebelum kita menuju video tutorialnya, terlebih dahulu kita lihat pengertian dari aspect ratio. Aspect ratio merupakan perbandingan ukuran panjang dan lebar (dimensi) dari media yang mempresentasikan gambar atau film. Contoh aspect ratio dari beberapa media yang populer:

  1. Film layar lebar (bioskop) memiliki banyak aspect ratio sebagai salah satu media yang paling lama pernah ada. Namun saat ini aspect ratio yang populer digunakan sejak 1953 adalah 1.85:1
  2. Standar internasional High Definition Television (HDTV) atau juga dikenal sebagai TV widescreen menggunakan format rasio 16:9
  3. Standar TV non HD menggunakan rasio 4:3. Angka ini berawal dari aspect ratio film 35mm yang telah digunakan sejak jaman film bisu pertama kali muncul di TV. Aspect ratio ini juga kemudian banyak digunakan dalam monitor komputer dll yang merupakan perkembangan dari media TV konvensional.
  4. Kamera digital pada saat ini umumnya banyak menggunakan aspect ratio 4:3 dan 3:2. Namun beberapa kamera yang telah support teknologi High Definition (HD) telah dapat menggunakan aspect ratio 16:9

Lalu bagaimana ketika sebuah gambar yang berasal dari media film dengan aspecratio widescreen 16:9 ditampilkan di media dengan aspect ratio standar 4:3? Berikut beberapa teknik yang digunakan:

1. Teknik direct placement (no adjustment)

Dengan teknik ini maka media film akan langsung ditempatkan di media normal tanpa perubahan apapun:

membuat cinematic cropping pada foto
Teknik Direct Placement

Seperti kita lihat di contoh atas, maka dengan teknik ini akan terjadi cropping di kiri dan kanan dari gambar aslinya (tergantung penempatannya). Contoh klasik dari teknik seperti ini adalah ketika Anda menonton film Indonesia tahun 70-80an yang diputar di televisi. Sering ada adegan dialog dimana aktornya yang berada di kiri dan kanan kamera tidak terlihat atau terpotong karena cropping yang terjadi.

membuat cinematic cropping pada foto
Contoh teknik Direct Placement

2. Teknik Anamorphic
Dengan teknik ini maka media yang berasal dari film widescreen dimampatkan di media 4:3 sehingga masuk semua.

membuat cinematic cropping pada foto
Teknik Anamorphic

Yang terjadi adalah gambar terlihat stretched dan tidak proporsional. Teknik ini sebenarnya berawal ketika menggunakan standar film 35mm untuk merekam film format widescreen dengan menggunakan lensa khusus yaitu lensa anamorphic. Dengan lensa khusus tersebut maka gambar akan dimampatkan dalam media film 35mm. Selanjutnya untuk menampilkan gambar tersebut dengan normal (misalkan di projector) harus menggunakan lensa tambahan untuk mengkoreksi gambar tersebut sehingga ditampilkan dalam bentuk yang normal.
Contoh dari teknik ini  yaitu ketika film-film klasik diputar di TV kadang aktor-aktornya akan tampak kurus-kurus dan tidak proporsional :)

membuat cinematic cropping pada foto
Contoh efek teknik Anamorphic

3. Teknik Letterbox
Teknik ini bertujuan agar format widescreen dengan rasio 16:9 dapat ditampilkan di media dengan format 4:3 tanpa menghilangkan bagian tertentu atau merusak dimensi proporsi awalnya. Dengan teknik ini maka media dari film disesuaikan dimensinya sehingga panjang dari media pas dengan rasio 4:3. Karena rasio 4:3 lebih kecil dari 16:9 maka akan ada sisa ruang kosong di bagian atas dan bawah yang kemudian biasanya diisi dengan warna hitam.

membuat cinematic cropping pada foto
Teknik Letterbox

Dengan teknik ini maka gambar tidak akan terpotong dan proporsi dimensi awal tetap tidak terganggu. Teknik Letterbox inilah yang kemudian oleh fotografer dikenal sebagai teknik cinematic cropping, digunakkan untuk menampilkan fotonya seperti layaknya foto yang berasal dari layar lebar atau widescreen.

Teknik lainnya yang merupakan variasi dengan prinsip yang sama dengan teknik Letterbox adalah:

4. Teknik Pillarbox

Merupakan kebalikan dari teknik Letterbox. Teknik ini biasanya digunakan ketika gambar dengan format 4:3 ditampilkan di media widescreen dengan format 16:9. Karena perbedaan rasio maka akan muncul ruang sisa di kiri dan kanan yang kemudian biasa diisi dengan warna hitam.

membuat cinematic cropping pada foto
Teknik Pillarbox

5. Teknik Windowbox
Teknik ini digunakan ketika media yang berasal dari widescreen dipindahkan ke media dengan rasio 4:3 dengan teknik Letterbox. Setelah itu media tersebut kembali dipresentasikan lagi di media widescreen dengan rasio 16:9 dengan teknik Pillarbox. Hasilnya adalah adanya ruang kosong di atas dan bawah (karena teknik Letterbox) serta di kiri dan kanan (karena teknik Pillarbox)

membuat cinematic cropping pada foto
Teknik Windowbox

Untuk menggunakan teknik cinematic cropping pada foto Anda sehingga memberikan kesan widescreen, Anda harus terlebih dahulu memahami aspect ratio yang telah dijelaskan di bagian sebelumnya. Dengan demikian dimensi gambar secara keseluruhan maupun tiap elemen yang ada (ruang hitam atas-bawah dan gambarnya sendiri) bisa sesuai dengan rasio yang tepat sehingga menghasilkan efek yang diinginkan.
Berikut video tutorial bagaimana membuat cinematic cropping yang tepat sesuai aspect ratio standar industri dengan menggunakan Adobe Photoshop. Tutorial ini memperlihatkan cara yang sangat fleksibel dalam pengaturan komposisi karena dalam prosesnya akan tetap mempertahankan dimensi image awal tanpa cropping dengan memanfaatkan layer mask.