Reuters Melarang Penggunaan Foto Dari Format RAW

reuters

Kantor berita internasional Reuters yang memperkerjakan ribuan jurnalis di seluruh dunia telah mengumumkan pelarangan penggunaan foto yang diprosed dari format RAW. Pengumuman ini dirilis oleh Reuters via email yang dikirimkan pada seluruh fotografer freelancernya di seluruh dunia. Fotografer hanya boleh mengirimkan foto yang direkam dalam format JPG langsung dikameranya. Menurut informasi, email tersebut dikirimkan oleh Picture Editor dari Reuters:

Hi,
I’d like to pass on a note of request to our freelance contributors due to a worldwide policy change.. In future, please don’t send photos to Reuters that were processed from RAW or CR2 files. If you want to shoot raw images that’s fine, just take JPEGs at the same time. Only send us the photos that were originally JPEGs, with minimal processing (cropping, correcting levels, etc).
Cheers,

Menurut Reuters, keputusan ini dibuat untuk untuk kecepatan (pengiriman foto dari kamera ke klien) dan etika. Seperti kita ketahui, format RAW memungkinkan foto untuk mengalami proses post-processing yang cukup signifikan dibandingkan JPG. Sehingga menurut kantor berita internasional ini, foto yang dibuat dari format RAW memiliki kemungkinan besar mendistorsi kebenaran dalam fotonya. Apabila tujuannya adalah untuk mendapatkan foto otentik dengan post-processing yang sangat minimal sekali melalui format JPG di kamera maka seharusnya Reuters juga melarang penggunaan Picture Profile, Camera Profile atau Image Profile tertentu di kamera. Apabila menggunakan profile tertentu di kamera seperti profile Vivid maka hasil foto akan terlihat berbeda (dalam hal ini saturasi dan color) dengan foto tanpa profile tertentu walaupun tetap menggunakan format JPG.

Bahkan sebenarnya ketika kita memilih format JPG tanpa profile pun sebenarnya telah terjadi proses post processing oleh kamera terhadap foto sebelum disimpan dalam format JPG oleh kamera. Proses tersebut dapat berupa peningkatan saturasi maupun penambahan sharpness. Apabila ingin mendapatkan foto yang sedekat mungkin dengan apa yang direkam oleh sensor kamera dengan minimal proses post processing internal oleh kamera, justru pilihannya adalah format RAW. Namun seperti yang disebutkan oleh Picture Editor Reuters, karena format RAW memiliki fleksibilitas yang tinggi untuk diedit/retouch pada akhirnya dapat mengakibatkan pesan yang sebenarnya dari foto menjadi terdistorsi.

Dalam dunia fotografi jurnalistik menurut saya langkah yang diambil oleh Reuters walau tidak 100% menjamin foto akan 100% otentik tetap merupakan langkah yang tepat. Hal ini mengingatkan saya ketika film format 135 (35mm) muncul dan populer menggantikan film format 120 di akhir tahun 1960an walaupun film format 135 lebih kecil daripada 120. Popularitas kamera dengan film format 135 dimulai oleh para fotografer jurnalistik yang lebih menyukai roll format film 135 yang kecil dan ringkas dibandingkan format 120 yang besar sehingga memudahkan mobilitas para fotografer di lapangan.

Hal yang kurang lebih sama dengan yang terjadi sekarang, format JPG menawarkan file size yang lebih kecil dan proses yang lebih singkat dibandingkan format RAW yang walaupun menawarkan kualitas lebih baik namun file size besar dan proses yang lebih lama. Untuk fotografer jurnalistik maka otentisitas berita adalah faktor utama dari pekerjaan seperti yang disampaikan oleh juru bicara dari Reuters: ““As eyewitness accounts of events covered by dedicated and responsible journalists, Reuters Pictures must reflect reality. While we aim for photography of the highest aesthetic quality, our goal is not to artistically interpret the news.”

Post via PetaPixel.