Trend Editing Foto Membosankan di Komunitas Indonesia

Photoshop sebagai sebuah aplikasi dan alat (tool) memang menjanjikan banyak hal ajaib yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh kita sebelumnya. Image, gambar dan foto yang sebelumnya hanya bisa kita nikmati sebagai konsumen di majalah-majalah, poster film dan iklan-iklan mendadak menjadi sesuatu yang tampaknya bisa kita buat sendiri di rumah, di laptop kita, di kamar, di kosan, di tengah kenyaman kediaman kita sendiri. Hal ini menjadi semakin menjadi kenyataan ketika kamera fotografi digital di tengah persaingan industri semakin banyak memberikan pilihan-pilihan alat-alat rekam digital yang semakin terjangkau. Kenyataan-kenyataan ini menjadikan aktivitas editing foto di Indonesia menjadi ramai bak pasar murah dengan munculnya trend editing foto yang berbagai rupa dan warna.

Bak pasar murah mungkin merupakan analogi yang bisa saya sampaikan untuk melihat trend editing foto yang ada di Indonesia terutama di komunitas-komunitas editing dan Photoshop yang ada sekarang. Pasar murah sesuai dengan namanya identik dengan keriuhan dan didominasi oleh barang-barang murah meriah yang walau belum tentu jelek namun kenyataannya barang murah tersebut kebanyakan adalah barang tidak berkualitas. Kalaupun ada orang yang mencoba berjualan di pasar murah dengan barang bagus dan premium, maka ia akan terpaksa menjual barangnya dengan harga murah dan pada akhirnya membuat barang jualannya yang tadinya premium menjadi barang murah meriah.

Saya lihat saat ini trend editing foto di komunitas menjadi sangat saturated sekali, hampir tidak ada kreativitas baru yang muncul. Coba Anda perhatikan posting apa yang paling ramai? Paling banyak Likers nya? Paling tinggi engagementnya di media sosial? Saya bisa bilang tidak pernah lari dari postingan tentang smudge painting, polygon (vexel) art dan background image replacement. Semua selalu berkisar di 3 topik tersebut. Saya tidak anti dengan trend editing foto seperti itu, namun seperti layaknya semua teknik editing foto, semuanya ada tempat dan waktu yang tepat untuk melakukan hal tersebut. Saat ini saya merasa “kasihan” dengan 3 teknik editing foto tersebut karena telah di abused dan overused.

Dalam tulisan ini saya tidak menyalahkan pihak-pihak lain, karena saya sadar ini juga adalah kesalahan saya, kesalahan kita bersama karena kita berada dalam lingkungan yang sama. Sudah saatnya kita elevate apa yang kita miliki dan membuat sebuah lingkungan yang lebih baik dan kreatif. Berikut beberapa hal yang mungkin bisa saya sharing dan renungkan bersama:

Untuk para pemula dan yang baru belajar

Ketahuilah banyak orang brengsek di luar sana yang secara insting memiliki pendekatan negatif kepada Anda. Ingat ketika Anda bertanya di forum kemudian Anda di bully oleh beberapa orang? Well, itu bukan hal baru dan Anda pasti akan mengalaminya. Karena orang brengsek seperti itu diciptakan Tuhan untuk memperkuat iman kita :) Intinya adalah jangan kapok bertanya, saya juga mengalaminya lebih dari 20 tahun lalu ketika saya mulai belajar. Tips dari saya cari mentor yang tepat untuk Anda. Mentor adalah orang yang punya waktu yang cukup dan kecakapan untuk sharing dan mentoring untuk Anda. Mencari mentor sama seperti mencari pasangan hidup, susah-susah gampang tapi bila Anda telah menemukannya maka Anda akan live happily ever after :)

Belajar basic atau fundamental skill. Cari dan pelajari materi, tutorial, workshop, kursus, buku, video yang mengajarkan Anda tentang basic atau fundamental dari fotografi, desain visual, digital image dan Photoshop. Saya sadar belajar fundamental itu membosankan, tidak menarik dan terasa memakan waktu yang lama. Tapi saya berani bertaruh berdasarkan pengalaman saya lebih dari 20 tahun menjadi profesional dan pengajar di bidang ini, Anda tidak akan menyesal. Analogi yang sering saya sampaikan di kelas, belajar basic itu seperti orang belajar jurus-jurus dasar di latihan bela diri. Jurus-jurus dasar itu membosankan dan terlihat tidak praktis dan dilakukan berulang-ulang kali. Namun latihan basic ini adalah untuk membangun gerakan refleks bawah sadar, yang ketika Anda bertanding gerakan-gerakan tersebut akan muncul dengan sendirinya tanpa Anda sadari. Demikian juga latihan basic, hal ini akan jauh sangat memudahkan Anda untuk memahami problem yang ada dan kunci dari kreatifitas Anda.

Langsung belajar teknik-teknik canggih memang sangat mudah sekarang dengan adanya media internet. Teknik-teknik dengan hasil yang ajaib dan keren-keren diajarkan di banyak media seperti di YouTube maupun Facebook. Memang sangat menggoda untuk dipelajari, dan kalo Anda ikuti step by step maka Anda akan bisa membuat hasil yang sama. Namun bila Anda tidak mempunyai basic dan fundamental yang baik maka pencapaian Anda hanya sampai titik itu. Anda akan kesulitan ketika Anda ingin memodifikasi hasilnya atau ketika tutorial tersebut diaplikasikan ke foto Anda hasilnya berbeda. Kenapa? Karena Anda tidak memiliki basic dan fundamental skill yang baik. Akibatnya Anda menjadi makhluk yang tidak kreatif :) Hal ini juga yang menjelaskan kenapa trend editing foto di komunitas-komunitas online hanya itu-itu saja, karena dominan followernya adalah mereka yang tidak punya basic fundamental skill yang baik sehingga trend editing foto yah itu-itu saja.

Untuk kita semua

Belajar adalah never ending process, selama kita masih hidup maka kita masih punya kemampuan untuk belajar berapapun umur kita. Belajar adalah kunci untuk menjadi kreatif sehingga memunculkan trend editing foto yang lebih beragam dan kreatif. Apa yang saya lakukan di FotografiDesain.com juga merupakan proses belajar saya, dengan sharing apa yang bisa saya lakukan saya mendapatkan banyak feedback dari teman-teman sekalian yang merupakan bahan pembelajaran yang tak terkira untuk saya. Tidak usah merasa tinggi hati atau rendah diri, dengan saling sharing dan saling belajar semua pihak baik pemula maupun yang senior akan diuntungkan.

Para pekerja seni seperti foto editor maupun fotografi memiliki karakteristik unik dalam “menjual” produk dan jasa mereka. Tidak seperti pedagang barang yang harganya didominasi oleh modal yang tangible, maka kita (foto editor dan fotografer) didominasi oleh modal yang intangible. Ini artinya adalah kita sendiri yang harus mulai bisa menghargai produk kita. Mulai dengan memberikan respect dan apresiasi yang tulus dan pantas bila melihat karya dari sesama editor maupun fotografer. Karena kalo diantara kita sendiri saling menjatuhkan maka bagaimana konsumen atau masyarakat menilai karya dan kreativitas kita? Saya sadar setiap pelaku memiliki strategic pricing sendiri, namun saya sangat berharap bahwa kedepannya industri ini bisa menjadi industri yang mapan dan bisa menjadi sumber mata pencaharian bagi pelakunya.

Sebagai penutup saya ingin sedikit merangkum apa yang telah saya sampaikan di atas. Basic, basic, basic. Tak terhitung berapa kali saya sampaikan di kelas-kelas saya betapa pentingnya belajar basic fundamental skill. Jadi, belajar, belajar, belajar. Yang saya perhatikan banyak orang yang lebih suka jalan pintas untuk mencapai sesuatu, well let me tell you: there is no shortcut to success. Terakhir, saya yakin hidup matinya industri ini ditentukan oleh pelaku industrinya sendiri. Jadi jangan salahkan konsumen atau masyarakat yang menilai rendah “harga” kita. Tugas kita semualah untuk mulai memberikan “nilai” yang baik untuk kita sendiri. Ok, terima kasih sudah membaca postingan curhatan saya kali ini.

Salam belajar :)

Bisma F Santabudi

  • Tofan Trisno Sejati

    *setuju (^_^)

    “…Langsung belajar teknik-teknik canggih memang sangat mudah sekarang
    dengan adanya media internet. Teknik-teknik dengan hasil yang ajaib dan
    keren-keren diajarkan di banyak media seperti di YouTube maupun
    Facebook. Memang sangat menggoda untuk dipelajari, dan kalo Anda ikuti
    step by step maka Anda akan bisa membuat hasil yang sama. Namun bila
    Anda tidak mempunyai basic dan fundamental yang baik maka pencapaian
    Anda hanya sampai titik itu. Anda akan kesulitan ketika Anda ingin
    memodifikasi hasilnya atau ketika tutorial tersebut diaplikasikan ke
    foto Anda hasilnya berbeda. Kenapa? Karena Anda tidak memiliki basic dan
    fundamental skill yang baik. Akibatnya Anda menjadi makhluk yang tidak
    kreatif :) Hal ini juga yang menjelaskan kenapa trend editing foto di
    komunitas-komunitas online hanya itu-itu saja, karena dominan
    followernya adalah mereka yang tidak punya basic fundamental skill yang
    baik sehingga trend editing foto yah itu-itu saja….”